Tampilkan postingan dengan label Rosella. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rosella. Tampilkan semua postingan

Karena Merah Berarti Khasiat

Oleh trubuson
Jumat, 01 Februari 2008 15:40:58

'Hati-hati ketika mengkonsumsi minuman rosela dalam kemasan, bila warna merah semakin memudar, sebaiknya tidak dikonsumsi,' kata Ir Didah Nur Faridah MSi, periset Epartemen Ilmu dan Teknologi Pangan , Institut Pertanian Bogor. Penyebabnya pengolahan, pengemasan, dan penyimpanan minuman Hibiscus sabdariff a tak cukup menjaga senyawa aktif di dalamnya. Khasiatnya menghilang seiring warna merah yang memudar.

'Saya pernah melihat minuman rosela yang berwarna putih, seiring lamanya waktu penyimpanan' kata Didah. Lantaran penasaran Didah pun mengujicoba musabab hilangnya pigmen merah. Hasilnya, rosela yang hanya dikemas botol transparan dan ditaruh di tempat terkena sinar matahari langsung, cepat berubah warna. Sebab, senyawa aktif rosela berupa antosianin mendegradasi. Zat aktiflah yang menyebabkan seduhan asam kumbang alias rosela berwarna merah. Jadi, warna merah hilang, khasiatnya pun lenyap.

Minuman rosela yang dibuat dari kelopak kering rosella, jumlah senyawa aktif rosela yang berupa senyawa fenolik yang dapat berfungsi sebagai senyawa antioksidan mencapai 23,10 mg/g bobot kering. Aktivitas antioksidan yang terukur dengan senyawa trolox mencapai 5.308,64 mM trolox/g bobot kering. Jumlah itu 4 kali lebih tinggi dibanding bubuk kumis kucing yang aktivitas antioksidannya 1.364,88 mM trolox/g kering. 'Adanya antioksidan rosela seperti gossipetin, antosianin, dan glukosida hibiscin memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit degeneratif seperti jantung koroner, kanker, diabetes melitus, dan katarak,' kata mahasiswa program doktor IPB itu.

Antikanker

Khasiat oseille rouge-rosela dalam bahasa Perancis-menghambat pertumbuhan sel kanker telah dibuktikan oleh De-Xing Hou di Jepang. Peneliti Faculty of Agriculture, Kagoshima University, itu menemukan delphinidin 3-sambubioside dan cyanidin 3-sambubioside, antosianin rosela yang ampuh mengatasi kanker darah alias leukeimia. Cara kerjanya dengan menghambat terjadinya kehilangan membran mitokondrial dan pelepasan sitokrom dari mitokondria ke sitosol.

'Antioksidan rosela meredam aksi radikal bebas yang menyerang molekul tubuh yang mengandung elektron,' kata Didah. Jika molekul mengandung elektron seperti guanin DNA terserang, kesalahan replikasi DNA mudah terjadi. Kerusakan DNA memicu oksidasi LDL, kolesterol, dan lipid yang berujung pada penyakit ganas seperti kanker dan jantung koroner.

Chau-Jong Wang, dari College of Medicine, Chung Shan Medical University, Taichung, Taiwan menemukan khasiat lain rosela. Hasil penelitiannya ekstrak rosela kering yang dibuat sirup, melindungi liver tikus setelah diinduksi karbon tetraklorida (CCl4), perusak hati. Setelah diberikan 1-5% rosela selama 9 minggu, kerusakan hati seperti steasis dan fi brosis turun secara signifikan.

Minuman kesehatan

Untuk membuat seduhan the vinagreira-rosela dalam bahasa Portugis-mudah. Bunga yang sudah dipetik, dijemur di bawah terik matahari selama 1-2 hari agar memudahkan pemisahan lidah kelopak dengan bijinya. Kemudian cuci air bersih dan jemur kembali selama 3-5 hari. Remas kelopaknya, jika mudah menjadi bubuk artinya kadar air telah mencapai 4-5%. Seduh 2-3 g teh rosela dengan air mendidih hingga larut dan air berubah menjadi kemerahan. Untuk diet, penderita batuk, atau diabetes gunakan gula rendah kalori seperti gula jagung. Di negeri asalnya, Afrika, rosela dijadikan selai atau jeli. Itu diperoleh dari serat yang terkandung dalam kelopak rosela. Di Jamaika, dibuat salad buah yang dimakan mentah. Ada kalanya juga dimakan dengan kacang tumbuk atau direbus sebagai pengisi kue sesudah dimasak dengan gula. Kerap bisap-sebutan rosela di Senegal-disuguhkan sebagai minuman tradisional saat natal. Caranya, kelopak rosela dicampur irisan jahe dan gula lalu ditaruh pada teko tembikar. Setelah itu dididihkan dan diamkan semalam. Disajikan dengan menambahkan es dan rum, 'Jus' itu berasa, beraroma, dan berwarna mirip minuman anggur.

Sedangkan di Mesir, Afrika Barat, rosela diminum dingin pada musim panas dan diminum panas saat musim dingin. Di Sudan, Afrika Timur, karkadeh-sebutan rosela di Sudan-menjadi minuman keseharian dengan campuran garam, merica, dan tetes tebu. Minuman itu juga menghilangkan efek mabuk dan mencegah batuk.

Serat

Penduduk Meksiko percaya rosela berkhasiat menurunkan bobot tubuh. Penelitiannya dilakukan Francisco J Alarcon-Aguilar dari Universidad Autónoma Metropolitana Iztapalapa, Meksiko. Sebanyak 120 mg ekstrak rosela yang mengandung 33,64 mg total antosianin diberikan selama 60 hari terhadap tikus gemuk berbobot 45 gram; normalnya 20 gram.

Hasilnya, konsumsi rosela terbukti menurunkan bobot tubuh pada tikus berbobot lebih dan meningkatkan asupan cairan ion ke tubuh. Penurunan lainnya terlihat pada trigliserida dan kolesterol jahat.

Penelitian efek kerabat bunga sepatu itu terhadap kegemukan juga dilakukan oleh Sáyago-Ayerdi SG dari Department of Nutrition, Universidad Complutense de Madrid, Spanyol. Menurut Sayago quimbombo chino-sebutan rosela di Spanyol-mengandung 33,9% serat larut yang membantu meluruhkan lemak.

Khasiat rosela memang beragam. Namun, hati-hati sebab tak semua orang bisa mengkonsumsinya. 'Keasamannya mencapai 3,14, untuk pengidap mag kemungkinan berefek merugikan,' kata Didah. (Vina Fitriani).

RAMUAN UTK MENINGKATKAN IMUNITAS

Tak perlu jauh-jauh mencari obat. Lihat saja di dapur ada apa? ujar Yellia Mangan, herbalis di Kalibata, Jakarta Selatan. Jahe, kunyit, dan asam dapat diolah menjadi ramuan untuk meningkatkan imunitas. Kunyit berfaedah sebagai antibiotik dan menetralisir racun, jahe untuk menghangatkan tubuh, dan asam sebagai penetralisir lemak. Setelah direndam air garam selama 10 menit, 5 irisan jahe dan 100 gram kunyit dikupas, blender, rebus dalam 1 leter. Saring setelah mendidih dan tambahkan beberapa sendok madu.
Bahan di dapur yang juga menggenjot sistem kekebalan adalah bawang putih. Jika enggan menguyah lantaran meninggalkan aroma tak sedap, iris tipis umbi dan telan bersama air matang.Di dapur masih ada jeruk nipis? Peras 2 buah dan tambahkan madu. Ramuan itu sebaiknya dikonsumsi menjelang tidur.
Rebusan bunga rosela Hibiscus sabdariffa juga cespleng menaikkan sistem kekebalan tubuh. Sekitar 7 bunga berwarna merah itu direbus dalam 1 liter air bersama 2 daun pandan. Kerabat kembang sepatu itu kaya kalori (147,12 kkal) dan vitamin C.

Uluran Kesembuhan Teh Herbal

Uluran Kesembuhan Teh Herbal


Tangan mungil itu menjumput 3 g butiran teh hitam kering. Ia memasukkannya ke dalam teko dan mendidihkan di atas lidah api. Teh panas itu ia minum sebelum berangkat ke kantor. Itulah ritual Suprihatin setiap pagi dalam 2 tahun terakhir. Ia merasakan manfaatnya, kelenjar tiroid berlebih dan kista rahim hilang tanpa operasi.

Usai melahirkan anak ke-2, Suprihatin bermaksud untuk mengatur jarak kelahiran. Ia mendatangi klinik dan diinjeksi cairan antikesuburan. Sepekan berselang tubuh perempuan kelahiran 5 Mei 1975 itu lunglai dan nyeri. Suprihatin bergegas ke dokter untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan itu. Ahli medis mendiagnosis ia kecapaian. Namun, anehnya gangguan seperti itu kerap datang. Ia kaget ketika mengetahui bobot tubuhnya merosot 18 kg dalam 5 bulan.

Oleh karena itu ia kembali ke dokter. Pemeriksaan lanjutan itu mengungkap nilai thyroid secretor hormone (TSH) Suprihatin pada angka 0. Sedangkan tiroksin T3 dan T4 di atas ambang normal, masing-masing 3,7 mg/ml dan 17,93 ug/dl. Padahal, nilai tiroksin T3 dan T4 normal 0,51- 1,65 mg/dl dan 4,4-12,0 ug/dl. Itu menandakan ia mengidap hipertiroid.

Selama 3 bulan perempuan 32 tahun itu mengkonsumsi obat resep dokter, neometrasol, obat kimia untuk pengidap hipertiroid. TSH, penanda aktivitas kelenjar tiroid tak juga menanjak. Itu sebabnya Suprihatin kerap pingsan, cepat lelah, suhu badan tak stabil, dan sering buang air kecil. 'Degup jantung saya lebih kuat dan cepat,' kata perempuan kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, itu.

Komplikasi

Selama setahun, Suprihatin hidup bersama penyakit akibat kelebihan hormon kelenjar tiroid itu. Padahal, semula dokter yakin penyakitnya bakal lenyap dalam 6 bulan. Oleh karena itu ia melanjutkan konsumsi obat kimia untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Dua bulan berselang, suhu tubuhnya justru meningkat dan nyeri terus mendera. Hari-harinya dihabiskan di pembaringan lantaran tubuh lunglai. Lantaran bosan dan tak kunjung sembuh, Suprihatin mencoba teh hitam yang disodorkan kerabatnya, Sunoko. Dengan dorongan ingin sembuh, ia menyeruput segelas teh hitam panas pada pagi dan sore.

Setelah satu bulan mengkonsumsi, Suprihatin merasakan perubahan. Tubuhnya terasa segar tanpa sesak dada yang kerap muncul. Kabar gembira itu juga ditunjang hasil pemeriksaan laboratorium yang membuktikan dirinya terbebas penyakit hipertiroid.

Ampuhnya teh hitam mengatasi penyakit telah ditemukan sejak ribuan tahun silam. Masyarakat Taiwan, Cina, dan Jepang banyak merasakannya. Teh hitam kaya antioksidan untuk membantu menyembuhkan kanker dan gangguan pada organ hati.

'Teh mampu membantu melenyapkan berbagai penyakit lantaran kandungannya yang lengkap,' kata dr Wiliam Adi Teja, doktrer sekaligus herbalis di Jakarta. Kandungannya antara lain polifenol, flavonoid, dan katekin. Polifenol berfungsi menetralisir radikal bebas, sehingga mampu mencegah serangan jantung dan kanker. Flavonoid bersifat sebagai senyawa alamiah antiradang, antibiotik, dan antioksidan. Sedangkan katekin adalah antioksidan yang kuat, lebih kuat daripada vitamin E, C, dan betakaroten.

Pegagan

Teh herbal sebutan untuk dedaunan atau bagian tanaman obat lain yang dikeringkan. Untuk meminumnya, konsumen tinggal menyeduhnya, persis daun teh Camelia sinensis. Di pasaran kini tersedia beragam bahan seperti pegagan. Khasiat daun Centella asiatica itu dirasakan Subiakto yang mengidap lever. Nilai SGOT (serum glutamic oxaloacetic transaminase) 119 U/L dan SPGT (serum glutamic pyruvic transaminase) 232,6 U/L. Kadar normal SGOT hanya 0-37 U/L dan SPGT 0-41 U/L.

Keduanya merupakan parameter fungsi hati. Jika lebih tinggi daripada kisaran itu berarti sel hati rusak berat, seperti dialami Subiakto. Selama sepekan pria kelahiran Jakarta itu terbaring di rumah sakit. Ia mengkonsumsi 2 jenis obat, HP Pro dan Imprek. Kaplet sintesis kimia itu meningkatkan perlindungan agar kerusakan hati tidak bertambah luas. Untuk mempercepat kesembuhan Subiakto rutin memeriksakan diri ke dokter. Namun, hingga 7 bulan mengkonsumsi obat-obatan itu kesembuhan belum juga diraih.

Oleh karena itu pria kelahiran 10 Mei 1975 itu menuruti saran temannya untuk mengkonsumsi daun pegagan. Pada September 2004, setelah 7 bulan mengidap lever, mulailah ia minum seduhan 20 gram daun kaki kuda-sebutan daun pegagan-kering. Dosisnya segelas dengan frekuensi 3 kali sehari. Setelah 5 hari mengkonsumsi ramuan itu, wajahnya yang semula pucat terlihat lebih segar. Sebulan kemudian, ia memeriksakan kesehatan di sebuah laboratorium. Hasilnya menunjukkan seluruh parameter penyakit lever telah normal sehingga Subiakto sembuh.

Pegagan kaya antioksidan, membantu menyembuhkan gangguan hati. Kandungan asam asetat, betakaroten, betakariofilen, betaelemena, betafarsenen, betasisterol, brahminosida, dan segudang senyawa lain efektif menggempur penyakit hati termasuk hepatitis. Selain itu pegagan bisa mengatasi gangguan campak, demam, sakit tenggorokan, dan radang mata merah. Itu karena kandungan antiradang dan antiinfeksinya tinggi. 'Minum teh pegagan pun jadi makin menyenangkan. Selain nikmat juga menyehatkan,' kata Subiakto.

Khasiat terbukti

Sudah lama memang anggota famili Umbelliferae itu berkhasiat sebagai antioksidan, obat kulit, memperbaiki gangguan saraf dan peredaran darah. Menurut Yasir Hassan Siddique periset Aligar Muslim University, pemberian 50 mg/ kg/hari ekstrak pegagan selama 14 hari, meningkatkan enzim antioksidan seperti superoksida dismutase (SOD), katalase, glutathione peroxidase (GSHPx), dan antioksidan glutathione (GSH).

Uji praklinis juga membuktikan ekstrak pegagan berperan sebagai antigenotoksik terhadap limfosit manusia. Pun meningkatkan aktivitas asetilkoline esterase dalam hipokampus sehingga meningkatkan performa fungsi otak pada tikus muda.

Mahanom Hussin peneliti dari Fakultas Ilmu Pangan dan Bioteknologi Universitas Putra Malaysia, membuktikan ekstrak pegagan menurunkan stres oksidatif. Kadar malonaldehid pada tikus yang diberi ekstrak pegagan amat rendah sehingga mengindikasikan penurunan lipid peroksida.

'Pada usia lanjut, metabolisme lemak cenderung menurun akibat penurunan aktivitas enzim. Itu membuat kadar lipid peroksida dalam darah meningkat,' kata dr Mohamad Soleh MKes yang berpraktek di Bogor. Peningkatan lipid peroksida darah mengakibatkan stres oksidatif. Itu berarti the gotu kola-namanya di India-berkhasiat menjaga stamina tubuh.

Selain pegagan, perdu lain yang berkhasiat sebagai hepatoprotektor alias pelindung hati adalah songgolangit. Khasiat ghamra-sebutannya di India-dibuktikan melalui serangkaian riset oleh Vilwanathan Ravikumar. Peneliti Universitas Madras India itu menggunakan liver tikus wistar jantan albino. Satwa pengerat itu diinduksi dengan lipopolisakarida, zat pemicu hepatitis. Sepuluh hari kemudian, tikus-tikus itu diberi ekstrak songgolangit Tridax procumbens. Dosisnya 300 mg/kg bobot tubuh.

Hasilnya, aktivitas enzim penanda hepatitis-aspartat transaminase, alanin transaminase, alkalin fosfat, laktat dehidrogenase, dan gamma glutamyl transferase-yang sempat meningkat, kembali normal. Gulma itu mengandung prokumbetine. Senyawa jenis flavonoid itu merupakan antioksidan penangkal radikal bebas. 'Antioksidan mampu mencegah kolesterol melekat pada pembuluh darah,' kata Prof Dr Ir Ali Khomsan MS, guru besar Ilmu Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor. Itu berarti songgolangit dapat menghalau penyakt jantung.

Bunga rosela

Teh herbal lain yang banyak dikonsumsi adalah rosela. Popularitas herbal itu meningkat dalam setahun terakhir. Boleh jadi karena Hibiscus sabdariffa itu multikhasiat. Anggota famili Malvaceae itu berperan sebagai antioksidan, antimutagenik, antikanker, hipolipidemik, dan hepatoprotektor. Ir Didah Nurfarida MSi, periset Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor, menemukan kadar antioksidan mencapai 1,7 mmmol/prolox. Antioksidan berfungsi menghilangkan sel-sel radikal bebas yang merusak inti sel. Selain itu, 'Rosela memiliki efek antikanker,' ujar Didah.

Penyakit lain seperti hipertensi dan kolesterol pun mampu diredamnya. Itu bukan isapan jempol, tetapi dibuktikan melalui uji sahih. Tercatat 42 pasien yang rutin mengkonsumsi ekstrak rosela dalam kapsul 500 mg, tokcer menurunkan kadar kolesterol. Mereka berusia 18-75 tahun semula berkadar kolesterol 175-327 mg/dl. Sebulan menyeruput seduhan rosela kolesterol dalam darah kembali normal.

Hasil itu ditunjang uji klinis oleh sekolah keperawatan Chung Shan Medical University. Kesimpulannya konsumsi 1 g ekstrak kapsul bunga rosela setiap hari selama sebulan, efektif menurunkan kolesterol hingga 12%.

Hasil uji nutrisi menunjukkan kapsul ekstrak rosela itu mengandung 20,1 mg anthosianin, 10 mg flavonoid, dan 14 mg polifenol.

Kerabat bunga sepatu yang berkembang di Afrika itu juga tokcer mengatasi hipertensi. Itu dibuktikan oleh F B O Mojiminiyi periset Departemen Fisiologi, Usman Danfodio University, Sokoto, Nigeria. Ia memanfaatkan 72 tikus wistar jantan berbobot 200-216 g yang terbagi dalam 12 kelompok. Masing-masing kelompok tikus diinduksi zat pemicu hipertensi dan tambahan 8% garam dalam pakan, serta 50 mg nitrit oksida sintesis per kg bobot tubuh. Pemberian pemicu hipertensi itu selama 5 pekan.

Setelah itu satwa percobaan diberi ekstrak cair rosela dengan dosis 1 mg, 5 mg, 25 mg, dan 125 mg per kg bobot tubuh. Hasilnya, tekanan darah tikus yang diberi ekstrak rosela dosis 125 mg/kg turun hingga 2,5 kali dibanding kelompok kontrol. Mekanisme efek antihipertensi kelopak bunga rosela ditelusuri dengan mengisolasi cincin aorta pada tikus yang menderita hipertensi spontan. Ekstrak rosela ternyata memperbaiki respon vasodilator cincin aorta. Vasodilator adalah fungsi untuk melebarkan pembuluh darah sehingga memperlancar peredaran darah.

Beragam

Ramuan teh herbal lain, ekstrak daun dewa Gynura segetum, sangat cocok untuk penderita tuberkulosis. Sebab, daun dewa bersifat antimikroba yang sanggup menggempur kuman penyebab gangguan paru-paru. Ia istimewa lantaran rasanya manis dengan sensasi dingin menyentuh lidah.

Jadi, jika letih karena stamina menurun, jangan sungkan-sungkan menyeduh teh herbal. Teh pegagan, rosela, atau teh daun dewa beberapa pilihan. Hanya saja tanaman mesti memenuhi persyaratan khusus sebelum diracik. Daun atau buah mesti segar, berwarna hijau tua, berukuran maksimal, dan tidak cacat karena terserang hama dan penyakit. (Andretha Helmina & Vina Fitriani)

Senin, 29 Oktober 2007 16:03:16 trubus.com
Kelopak Merah Penolak Kanker

Oleh trubuson
Sabtu, 01 Desember 2007 15:28:25



Ingat kenaf alias rosela Hibiscus cannabinus? Tanaman kaya serat itu terkenal sebagai bahan baku tali dalam pembuatan karung goni. Sayang, fungsi itu sudah tergantikan serat sintetis. Kini giliran kerabatnya Hibiscus sabdariffa yang mencuat. Bukan sebagai karung tapi minuman kesehatan kaya antioksidan pencegah kanker.

Sebelumnya rosela merah Hibiscus sabdariffa jarang dikenal orang lantaran kalah pamor dibanding kenaf. Namun setelah ditemukan faedahnya, rosela pun menjadi minuman ringan favorit di rumah. Cara menyajikannya mudah, cukup dengan merebusnya hingga mendidih. 'Jika rutin diminum, ada banyak khasiat yang bisa diperoleh,' kata Ir Didah Nurfarida MSi, periset Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor.

Sepanjang 2006, Didah meneliti kandungan antioksidan pada teh kelopak merah itu. Hasilnya, roselle-sebutan rosela di Amerika-terdapat 1,7 mmmol/prolox antioksidan. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan kumis kucing yang antioksidannya teruji klinis meluruhkan batu ginjal. Itu diperoleh dengan menggerus 3 kuntum rosela menjadi 1,5 gram bubuk dan diberi air 200 ml. Lantas, hasilnya dimasukkan ke spektrofotometer. Alat itu menganalisis seluruh kandungan kimia berdasarkan panjang gelombang yang dibiaskan larutan.

Antikanker

'Dengan adanya antioksidan, sel-sel radikal bebas yang merusak inti sel dapat dihilangkan,' kata Didah. Itu sebabnya rosela memiliki efek antikanker. Yang paling berperan adalah antosianin. Antosianin berperan menjaga kerusakan sel akibat peyerapan sinar ultraviolet berlebih. Ia melindungi sel-sel tubuh dari perubahan akibat radikal bebas.

Pembuktian khasiat antikanker oseile rouge-sebutan rosela di Perancis-tak cuma di Indonesia. Di luar negeri, penelitiannya sudah banyak. Salah satunya hasil penelitian Hui-Hsuan Lin dari Institute of Biochemistry and Biotechnology, Chung Shan Medical University, Taichung, Taiwan. Ia membuktikan karkadeh-sebutan rosela di Sudan-bersifat antikanker lambung manusia. Penelitiannya menemukan antioksidan rosela membunuh sel kanker dengan metode sitotoksis dan apoptosis.

Lain dengan penelitian De-Xing Hou di Jepang. Peneliti Department of Biochemical Science and Technology, Faculty of Agriculture, Kagoshima University, Jepang itu menemukan delphinidin 3-sambubioside, antosianin rosela yang ampuh mengatasi kanker darah alias leukemia. Cara kerjanya dengan menghambat terjadinya kehilangan membran mitokondria dan pelepasan sitokrom dari mitokondria ke sitosol.

Cara lain menemukan senyawa aktif zuring-sebutan rosela di Belanda-ditempuh John McIntosh. Periset dari Institute of Food, Nutrition and Human Health, Massey University, Selandia Baru itu mengekstrak rosela dengan mengeringkan kelopak bunga pada suhu 50oC selama 36 jam. Tiga gram hasil pengeringan rosela diencerkan dalam 300 ml air. Larutan itu dimasukkan ke tabung spektofotometer dan diuji dengan panjang gelombang 520 nm. Hasil penelitian menunjukkan rosela mengandung 51% antosianin dan 24% antioksidan lain.

Beragam

Khasiat rosela tak sebatas antikanker. Fungsi rosela sebagai antikejang otot diteliti M. B. Al, ahli tanaman Medicinal and Aromatic Herbs Research Institute, National Council for Research Khartoum, Sudan. Hasil injeksi 2,5 ml ekstrak gerusan 125 mg rosela kering terbukti menghambat kejang pada berbagai otot. Antara lain, otot aorta kelinci, otot rahim tikus, otot diafragma pada babi, dan perut rahim katak.

Injeksi ekstrak rosela itu bagai anestesi. Sebab, tekanan darah langsung turun, kejang otot pun musnah. 'Makanya, orang yang meminumnya langsung terasa segar dan hilang dari kepenatan. Terutama untuk pengidap darah tinggi,' kata Dewani, herbalis Planta Medika Loka, di Lentengagung, Jakarta Selatan.

Utami merasakan langsung khasiat rosela untuk menurunkan tekanan darah tingginya yang telah diidap selama 5 tahun. Ibu 2 anak itu kerap pusing, mual, dan panas di kepala. Lantaran menganggapnya sebagai sakit kepala biasa, karyawati sebuah bank swasta di Jakarta itu hanya mengkonsumsi obat-obatan warung. Lama-kelamaan nyeri kepala semakin parah. 'Seperti di pukul palu,' katanya. Itu disertai mual dan muntah. Belum lagi dada sesak dan panas yang membuatnya sulit beristirahat. Tidur pun menjadi mahal.

Penderitaan itu dilakoni selama 1 tahun. Hingga pada 2002, ia berkonsultasi ke ahli medis. Dokternya memberikan obat agar tekanan darah tak melonjak. Selama lima tahun wanita kelahiran 17 April 1970 itu bergantung pada obat kimia resep dokter.

Barulah pada awal Februari 2007, temannya menyodorkan teh hangat berwarna merah. Tanpa mengetahui khasiatnya, Utami rutin mengkonsumsi teh vinagreira-rosela dalam bahasa Portugis-lantaran menyukai rasanya. Setelah mengkonsumsi, Utami merasa lebih tenang lantaran kekakuan saraf dan ketegangan leher akibat hipertensi hilang. Merasa lebih bugar dan nyenyak tidur, Utami memeriksakan diri ke dokter. Terbukti, setelah satu bulan mengkonsumsi rosela, tekanan darahnya turun 65 poin, dari 215 mmHg menjadi 150 mmHg.

Penjaga hati

Chau-Jong Wang, dari Institute of Biochemistry and Biotechnology, College of Medicine, Chung Shan Medical University, Taichung, Taiwan menemukan khasiat lain rosela. Hasil penelitiannya ekstrak rosela kering melindungi liver tikus yang telah diinduksi carbon tetrachloride (Ccl4), perusak hati.

Setelah diberikan 1-5% rosela selama 9 minggu, kerusakan hati seperti steasis dan fibrosis turun. Metode kerjanya menurunkan aspartate aminotransferase (AST) dan alanine aminotransferase (ALT), memperbaiki jumlah glutationin yang berkurang, serta menghambat meningkatnya jumlah lemak peroksida akibat injeksi perusak hati.

'Tak hanya antosianin yang terkandung, berbagai zat gizi lengkap ada dalam rosela,' kata Didah. Dalam 100 gram rosela kering mengandung sejumlah asam amino dan mineral yang diperlukan tubuh. Seperti protein 1,145 g, lemak 2, 61 g, serat 12,0 g, kalsium 1.263 mg, fosfor 273,2 mg, besi 8,98 mg, karoten 0,029 mg, tiamin 0,117 mg, riboflavin 0.277 mg, dan niasin 3,765 mg.

Sedangkan asam lemaknya ada 18, seperti asam askorbat 6,7 mg, arginin 3,6 mg, sistein 1,3 mg, histidin 1,5 mg, isoleusin 3,0 mg, leusin 5,0 mg, lisin 3,9 mg metionin 1,0 mg, fenilalanin 3,2 mg, threonine 3,0 mg, tryptophan 2,2 mg, valine 3,8 mg, asam aspartat 16,3 mg, asam glutamat 7,2 mg, alanin 3,7 mg, glisin 3,8 mg, proline 5,6 mg, dan serin 3,5 mg.

Dengan segudang gizi itu, tak salah bila orang di berbagai belahan dunia seperti China, Mesir, Sudan, Jerman, dan Belanda menyematkannya sebagai salah satu panasea mujarab. (Vina Fitriani) trubus.com

Rosella

Tersedia dalam kemasan:
Kantong plastik 50gr = Rp. 15.000,-
Kantong plastik 1kg = Rp. 150.000,-

TEH ROSELLA atau TEH MERAH dikenal dengan nama beragam : Teh Rosella, Hibiscus
tea, Teh Mekkah, Teh Yaman. Disebut juga Karkade (Arab), Kezeru (Jepang),
Merambos Hijau (Jateng), Asam kesur (Meranjat), Kesew Jawe (Pagar Alam), Asam
Jarot (Sp. Padang), Asam Rejang (Muara Enim) dan Hisbiscus Sabdariffa L. (Latin)

Tiap 100 gr mengandung 260-280 mg vitamin C, vitamin D, B1 dan B2. Kandungan
vitamin C 3 kali lipat anggur hitam, 9 kali lipat jeruk sitrus, 10 kali lipat
lebih besar dari buah belimbing dan 2,5 kali lipat dibanding vitamin C dalam
jambu biji (kelutuk). Selain itu Teh Rosella mengandung KALSIUM tinggi ( 486 mg
/ 100 gr) , Magnesium serta Omega 3. Teh Rosella juga diperkaya Vitamin A, Iron,
Potasium, Beta Caroteen & Asam Esensial

Manfaat dari Teh Rosella ini antara lain :
* Meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.
* Menormalkan kadar GULA DARAH , ASAM URAT dan KOLESTEROL dalam tubuh.
* Baik untuk PEROKOK karena dapat mengurangi dampak negatif dari Nikotin
serta dapat membasmi virus TBC dan mengurangi ketergantungan terhadap NARKOBA
seta mencegah KANKER.
* Mengatasi BATUK, Sakit Tenggorokan, Mengobati Sariawan.
* Mengawetkan kehalusan kulit dan Mengurangi Keriput.
* Dapat menurunkan berat badan, cocok untuk program diet.
* Melindungi dari infeksi kuman, anti bakteri , anti virus serta dapat
mengobati keracunan.
* Bagi Anak-anak bermanfaat mempercepat pertumbuhan OTAK, karena mengandung
OMEGA-3 dan memacu pertumbuhan DHA.
* Memperbaiki metabolisme tubuh, memperlambat menopouse dan tulang keropos /
pengapuran tulang.
Rosella... Begitu Menggoda

Namanya tenar hampir di seluruh penjuru dunia. Belakangan, tanaman ini juga mulai populer di Indonesia. Orang bilang, ini teh Jamaica. Benarkah Rosella berasal dari Afrika? Seberapa besarkah khasiatnya?

Sebut saja namanya Rosella. Tanaman bernama Latin Hibiscus sabdariffa ini sedang naik daun. Padahal sejatinya tanaman ini sudah lama ada di Indonesia. Hanya saja, ia disebut dengan nama yang berbeda di setiap daerah.

Darwin (76 tahun), salah satu pembudidaya Rosella juga mengenal tanaman ini sebagai tanaman yang berasal dari luar negeri. Menurut pengakuannya, saat pertama kali menanam Rosella dua tahun yang lalu, tanaman ini belum dikenal seperti sekarang. "Dua macam Rosella yang saya miliki berasal dari pemberian seorang rekan yang baru pulang dari Taiwan, dan yang satunya lagi saya dapatkan dari menitip seseorang ketika ia pergi ke Sudan," ujar Darwin.

Memang banyak orang memperlakukan Rosella sebagai pendatang baru dari Afrika, yang diyakini sebagai tempat asalnya. "Padahal tanaman ini sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia," ujar Endah Lasmadiwati, herbalis sekaligus Ketua Abdi Pelestari Tanaman Obat Indonesia (APTOI) yang juga menanam Rosella di kebun percontohan tanaman obat miliknya, Taman Sringanis, Bogor.

"Dulu kelopak Rosella dikenal sebagai frambozen yang digunakan sebagai bahan pembuat sirup berwarna merah yang beraroma khas. Sekarang ini, kelopak Rosella dikenal sebagai bahan minuman dan disebut teh Rosella. Tanaman yang masih kerabat bunga sepatu ini banyak ditemukan sebagai tanaman pagar," kata Endah.

Mungkin karena sulit melafalkan nama frambozen, orang Jawa Tengah menyebutnya merambos ijo. Di daerah Pagar Alam, Sumatera Selatan, Rosella disebut kesew jawe dan di daerah Muara Enim disebut asam rejang. Orang Padang menyebutnya asam jarot.

Dari Mana Asalnya?

Menengok sekilas cerita beberapa abad yang lalu, keberadaan Rosella saat ini bagaikan perantau yang pulang kembali ke kampung halaman.

Pada tahun 1576 seorang ahli botani asal Belanda bernama M. de L'Obel menemukan tanaman ini ditanam di halaman sebuah rumah di Pulau Jawa. Padahal Rosella berasal dari India. Diduga tanaman ini dibawa oleh pedagang India saat datang ke Indonesia sekitar abad ke-14. Mungkin karena belum diketahui khasiatnya, dulu Rosella belum dikenal seperti sekarang.

Jadi, bagaimana kok tanaman ini dianggap berasal dari Afrika? Rosella memang banyak tumbuh di sana juga. Penyebarannya tidak lepas dari peran para budak Afrika. Benih tanaman Rosella dibawa oleh para budak dan kemudian tumbuh di berbagai belahan dunia, di antaranya Sudan, Mexico, Jamaica, Brazil, Panama, hingga beberapa negara bagian Amerika dan Australia.

Sudah Mendunia
Menurut Endah, Rosella yang selama ini dikenal sebagai bunga telah mengalami semacam salah kaprah penyebutan. Yang dimaksud bunga tidak lain sebenarnya adalah kelopak buah. Karena bentuknya seperti bunga (terlebih jika telah dikeringkan), maka orang menyebutnya bunga Rosella. Padahal, bahan pembuat teh itu lebih tepat disebut kelopak.

Kelopak Rosella bisa dikonsumsi dalam bentuk segar maupun dalam bentuk seduhan seperti teh. Di Mexico, bagian selatan California, dan Thailand, kelopak Rosella kering yang dimanfaatkan dengan cara diseduh seperti teh sangat populer dengan sebutan Jamaica, atau aqua de Jamaica. Di Senegal, teh Rosella dikenal dengan nama jus de bissap. Masyarakat Gambia menyebutnya wanjo, zobo, atau tsobo. Di Turki, kelopak Rosella kering yang disajikan dalam bentuk teh disebut Karkade (dibaca "kar-kahday"). Karkade sendiri konon merupakan cara bangsa Arab menyebut teh manis. Mungkin karena kelezatannya itulah teh Rosella menjadi minuman kaum bangsawan Mesir kuno dan dijadikan semacam ritual "toast” pada perayaan pesta pernikahan di Sudan. Kelopak Rosella segar juga dimanfaatkan menjadi berbagai bentuk makanan seperti puding, campuran salad, hingga selai dan sirup.

Selain rasanya yang enak, kelopak bunga yang satu ini memang memiliki efek farmakologis yang cukup lengkap seperti diuretik (melancarkan air seni), onthelmintic(membasmi cacing), antibakteri, antiseptik, antiradang, menurunkan panas, meluruhkan dahak, menurunkan tekanan darah, mengurangi kekentalan darah, dan menstimulasi gerak peristaltik usus. Daun, buah, dan bijinya juga berperan sebagai diuretik, antisariawan, dan pereda nyeri. Kelopak Rosella juga dapat mengatasi panas dalam, sariawan, kolesterol tinggi, hipertensi, gangguan jantung, sembelit, mengurangi resiko osteoporosis, dan mencegah kanker darah.

Kaya Antioksidan

Di Indonesia, penelitian tentang uji komponen zat gizi dan aktivitas antioksidan pada kelopak Rosella pernah diteliti oleh Ir Didah Nurfaridah pada tahun 2005. Dalam penelitiannya tersebut, staf pengajar di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, ini menemukan bahwa kadar antioksidan yang terkandung dalam kelopak kering Rosella jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman kumis kucing dan bunga knop. Zat aktif yang paling berperan dalam kelopak bunga Rosella meliputi gossypetin, antosianin, dan glucoside hibiscin.

Antosianin merupakan pigmen alami yang memberi warna merah pada seduhan kelopak bunga Rosella, dan bersifat antioksidan.

"Kadar antioksidan yang tinggi pada kelopak Rosella dapat menghambat radikal bebas. Beberapa penyakit kronis yang ditemui saat ini banyak yang disebabkan oleh radikal bebas yang berlebihan. Di antaranya kerusakan ginjal, diabetes, jantung koroner, hingga kanker," ujar Didah.

Perbandingan kadar antosianin yang bersifat antioksidan dapat dilihat pada dua jenis Rosella yang ditanam di kebun milik Darwin di Cisarua. Meskipun berasal dari satu spesies, Rosella Sudan berwarna merah pekat kehitaman, sedangkan Rosella Taiwan berwarna merah darah. Rosella Sudan rasanya lebih asam dan lebih pekat sehingga kelopak keringnya dapat digunakan hingga 2-3 kali seduh. Berbeda dengan Rosella Taiwan yang hanya dapat digunakan sekali seduh.

"Semakin pekat warna merah pada kelopak Rosella, rasanya akan semakin asam. Dan kandungan antosianinnya semakin banyak. Dengan demikian, kandungan antioksidannya juga semakin banyak," kata Didah.

Sayangnya, kadar antioksidan dalam kelopak Rosella menjadi berkurang jika dikeringkan dengan proses pemanasan (dipanggang dalam oven). Kadar senyawa berkhasiat yang terkandung dalam kelopak Rosella berada pada tingkat tertinggi jika dikonsumsi dalam bentuk segar.

Antikanker dan Antihipertensi

Di antara banyak khasiatnya, Rosella diunggulkan sebagai herba antikanker dan hipertensi. Ini sesuai dengan uji pra klinis yang dilakukan oleh Yun Ching Chang, seorang peneliti dari Institute of Biochemistry and Biotechnology, Chung Shan Medical University di Taiwan. Yun Ching Chang menemukan bahwa pigmen alami dari kelopak kering Rosella terbukti efektif dalam menghambat dan sekaligus mematikan sel kanker HL-60 (kanker darah atau leukemia). Pigmen ini jugs berperan dalam proses apoptosis (bunuh diri) sel kanker.

Sementara itu, Maureen Williams, ND, seorang dokter naturopati dari Bastyr University di Seattle, Amerika Serikat, telah melakukan studi terhadap 70 orang dengan tingkat penyakit hipertensi ringan hingga sedang yang berada dalam kondisi sehat dan tidak melakukan pengobatan apa pun sejak sebulan sebelum penelitian diujikan. Secara acak, sebagian orang diminta untuk mengonsumsi teh Rosella sebanyak satu setengah liter sebelum sarapan setiap hari. Sebagian lagi mengonsumsi 25 mg obat antihipertensi. Setelah empat minggu, ternyata tekanan darah diastolik berkurang hingga sepuluh angka untuk 79% orang yang mengonsumsi teh Rosella dan 84% pada orang yang mengonsumsi obat antihipertensi.

Belum pernah dilaporkan efek samping yang serius akibat konsumsi kelopak Rosella selain jantung berdebar. Namun Peter Hardwick dari jurnal Australian Food Plants Study Group Newsletter mengatakan bahwa ada spesies lain dari Rosella yang disebut Native Rosella (Hibiscus heterophyllus) yang bisa menyebabkan kerusakan ginjal jika dikonsumsi. Bunga segarnya mirip Rosella (Hibiscus sabdariffa). Oleh karena itu, hati-hati, jangan sampai salah pilih.

Meskipun demikian, Darwin, Aria yang masih tegap dan bugar dalam usia 76 tahun ini memberikan kesaksian lain. "Alhamdulillah, saya sudah mengonsumsi Rosella selama dua tahun, dan tidak memiliki keluhan apapun," katanya.

Anda memang tak perlu percaya 100%. Yang jelas, kelezatan teh Rosella bisa dibuktikan kebenarannya. Jika kemudian ada bonus sehat, bukankah itu menguntungkan?

Sumber: Majalah Nirmala

Bunga Rosella Penghias Taman Antihipertensi

Seperti jenis bunga lain, rosela layak dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena bentuk dan warnanya menarik. Sejatinya bunga ini juga dimanfaatkan sebagai herba peredam hipertensi.

Dlihat dari penampilannya, tak salah jika bunga rosela dimasukkan dalam kategori tanaman hias. Warnanya cerah menyegarkan, pas jika ditanam sebagai penghias taman. Meski begitu, tanaman yang memiliki nama Latin Hisbiscus sabdariffa ini juga berkhasiat meredam tumor, antiradang, antihipertensi, dan memperlancar buang air besar.

Kelopak bunga rosela bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk seduhan, seperti teh. Bahkan, kini sudah biasa diolah dalam bentuk sirop, selai, dan minuman lain. Tanaman herba yang juga dikenal sebagai penghasil serat ini dapat diolah menjadi campuran salad, puding, juga asinan.

Kelopak bunga rosela mengandung vitamin C, vitamin A, dan asam amino. Asam amino yang diperlukan tubuh, 18 di antaranya terdapat dalam kelopak bunga rosela, termasuk arginin dan legnin, yang berperan dalam proses peremajaan sel tubuh.

Kelopak bunga rosela juga mengandung protein dan kalsium. Sebagai obat tradisional, rosela berkhasiat sebagai antiseptik, aprodisiak, diuretik, pelarut, sedatif, dan tonik.

Kaya Antioksidan

Popularitas rosela inilah yang kemudian mendorong para ilmuwan untuk meneliti kandungannya lebih lanjut, seorang di antaranya, Ir Didah Nurfarida MSi, dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor. Tahun 2006, Didah mengungkapkan bahwa kandungan antioksidan pada teh kelopak merah (bunga rosela), jumlahnya 1,7 mmol/prolox, lebih tinggi dibandingkan dengan kumis kucing, yang sudah teruji klinis dapat meluruhkan batu ginjal.

Jumlah antioksidan itu diperoleh dengan menggerus 3 kuntum rosela yang telah dikeringkan, kira-kira sebanyak 1,5 gram. Setelah diberi air 200 ml, lalu dimasukkan ke spektrofotometer. Alat itu menganalisis seluruh kandungan kimia berdasarkan panjang gelombang yang dibiaskan larutan.

Dengan keberadaan antioksidan, sel-sel radikal bebas yang merusak inti sel dapat dihilangkan. Itu sebabnya rosela memiliki efek antikanker. Kandungan yang paling berperan adalah antosianin atau pigmen tumbuhan yang bertanggung jawab menghindarkan dari kerusakan sel akibat paparan sinar ultraviolet berlebih.

Di Selandia Baru, John McIntosh, periset dari Institute of Food Nutrition and Human Health, Massey University, mengekstrak rosela dengan mengeringkan kelopak bunganya pada suhu 50 derajat Celsius selama 36 jam. Tiga gram rosela hasil pengeringan diencerkan dalam 300 ml air. Larutan itu dimasukkan ke tabung spektrofotometer. Hasilnya rosela mengandung 51 persen antosianin, antioksidannya 24 persen.

Hasil temuan itulah yang kemudian digunakan Yun-Ching Chang dari Institute of Biochemistry and Biotechnology, Chung Shan Medical University, Taiwan. Periset itu lalu menguji efektivitas antosianin rosela untuk menghambat sel kanker darah atau leukemia.

Pigmen alami oseile rouge - sebutan rosela di Perancis-- tak hanya menghambat pertumbuhan sel kanker, tetapi juga mematikannya. Dosis yang diberikan hanya 0-4 mg/ml rosela. Antosianin yang berpengaruh diberi nama delphinidin 3-sambubioside.

Beberapa penelitian dan riset itu baru praklinis di laboratorium. Belum ada pembuktian efeknya langsung pada manusia. Namun, Tria Novida (35 tahun) merasakan langsung manfaat rosela untuk menurunkan tekanan darah tingginya yang sering mengganggu setengah tahun terakhir ini.

Ibu dua anak itu mengaku kerap pusing, mual, dan panas di kepala. Karena menganggapnya sakit kepala biasa, guru TK ini hanya mengonsumsi obat-obatan bebas.

Namun, lama-kelamaan nyeri kepalanya semakin parah. Kepalanya terasa berat. Jika sudah begitu, ia tak sanggup berjalan, apalagi mengajar, karena kehilangan keseimbangan. saat periksa ke dokter, ia dinyatakan mengidap hipertensi.

Pada akhir Februari lalu, saat berkunjung ke sebuah pameran, ia ditawari seduhan teh hangat berwarna merah. Meski awalnya hanya sebatas mencoba, Ida memutuskan untuk rutin mengonsumsi teh rosela yang terasa sedikit kecut, tetapi lebih menyegarkan daripada teh.

Setelah mengonsumsi selama satu bulan, ia merasa lebih tenang karena kekakuan saraf dan ketegangan leher akibat hipertensi perlahan mulai hilang. Tak hanya itu, tubuh juga lebih bugar dan nyenyak tidur.

Agar lebih yakin, Ida memeriksakan diri ke dokter. Ternyata tekanan darahnya turun 70 poin, dari 190 mmHg menjadi 120 mmHg.

Turun 11,2 Persen

Khasiat kelopak zuring, sebutan rosela dalam bahasa Belanda, untuk hipertensi juga dibuktikan Abd Al-Aziz Sharaf dari Sudan Research Unit, Institute of African and Asian Studies. Seperti dikutip Planta Medical Journal, kelopak rosela bersifat hipotensif (antihipertensi) dan antikejang.

Sifat antihipertensi itu diuji klinis oleh M. Haji Faraji dan A.H. Haji Tarkhani dari Shaheed Beheshti University of Medical Sciences and Health Services, Teheran, Iran. Sebanyak 54 pasien tekanan darah tinggi di Tehran's Shariati Hospital dihitung tekanan diastolik dan sistoliknya 15 hari sebelum dan sesudah pengujian.

Pasien diberi secangkir teh seduhan 3 kuntum bunga rosela. Setelah 12 hari, nilai sistolik pasien rata-rata turun 11,2 persen, tekanan diastolik turun 10,7 persen. Saat konsumsi rosela dihentikan 3 hari, tekanan sistolik meningkat 7,9 persen, diastolik 5,6 persen. Itu membuktikan rosela memang berkhasiat menurunkan tekanan darah tinggi.

Bunga rosela tumbuh dari biji/benih dengan ketinggian mencapai satu meter lebih serta mengeluarkan bunga hampir sepanjang tahun. Bunga rosela berwarna cerah, kelopak bunga (kaliks) berwarna merah gelap dan lebih tebal jika dibandingkan dengan bunga raya (sepatu).

Bagian bunga rosela yang bisa diproses menjadi makanan ialah kaliks yang mempunyai rasa masam. Kelopak bunga ini bisa diproses menjadi minuman, jeli, saus, serbuk (teh), atau manisan.

Daun muda rosela bisa juga dimakan sebagai ulam atau salad. Di benua Afiika, biji Rosela dimakan karena dipercaya mengandung minyak tertentu. Di Sudan, Rosela diproses menjadi karkadeh, minuman tradisional kebanggaan masyarakatnya.

Bagaimana dengan Anda?

Mengolah Si Jamaican Sorrel

Di India Barat, rosela biasa disebut Jamaican Sorrel. Kata Jamaican bisa jadi ada hubungannya dengan cerita tentang pengembangan rosela untuk pertama kalinya di Jamaika pada tahun 1707.

Bagaimana mengolahnya? Menurut Iwan R. Hudaya, konsultan dan pembudi daya bunga rosela yang tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, rosela lebih sering diolah menjadi seduhan, seperti teh.

Membuat Seduhan

Kelopak bunga yang sudah dipetik, dijemur di bawah terik matahari {1-2 hari) agar memudahkan pemisahan lidah kelopak (warna merah) dengan bijinya. Berikutnya, kelopak yang sudah dipisahkan dengan biji tersebut dicuci dengan air bersih. Biji yang sudah diangin-anginkan bisa dijadikan bibit.

Kelopak warna merah dijemur selama 3-5 hari. Gunakan penutup dari plastik agar kelopak tidak kena debu. Tanda kelopak sudah cukup kering, kadar air tinggal 4-5 persen, dan akan menjadi bubuk bila diremas. Simpan dalam stoples yang bersih dan kering, lalu tutup rapat.

Pemakaian:

- Seduh 2-3 gr teh rosela dengan air mendidih hingga larut dan air berubah menjadi kemerahan (seperti membuat air the), tambahkan potongan jahe atau gula pasir sesuai selera. Untuk yang sedang berdiet, penderita batuk, atau diabetes, gunakan gula rendah kalori seperti gula jagung.

- Selain dapat diramu sendiri, ekstrak bunga rosela juga sudah bisa diperoleh dalam bentuk olahan, dari mulai serbuk hingga bahan seduhan seperti the celup. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 10 ribu. Produk rosela yang baik kualitasnya dapat dibeli di toko obat terpercaya dan telah diakui oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Sumber: Senior