Tampilkan postingan dengan label Kunyit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kunyit. Tampilkan semua postingan
Kunyit dan Temu Lawak Untuk Mencegah Flu Burung

Flu burung menjadi penyakit yang menakutkan bagi banyak orang. Banyak pihak mencari upaya mengatasi penyakit mematikan itu. Para peneliti pun seperti terpacu untuk menghasilkan obatnya.

Prof HM Hembing Wijayakusuma, pakar pengobatan alami, mengemukakan, untuk meningkatkan daya tahan tubuh, selain harus mengonsumsi makanan yang bergizi, olahraga dan istirahat yang cukup, juga dapat ditunjang dengan mengonsumsi ramuan tumbuhan obat yang mempunyai efek imunostimulan (meningkatkan daya tahan tubuh) seperti kunyit, temu lawak, dan sambiloto.

''Masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya alam yang murah, efektif, efisien, dan tanpa efek samping sehingga aman dikonsumsi tiap hari sebagai langkah pencegahan dan pengobatan dini,'' kata akupunkturis ini.

Menurutnya, bagian yang digunakan dari kunyit (Curcuma longa L.) dan temu lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) adalah rimpangnya. Senyawa yang terkandung dalam rimpang kunyit dan temu lawak adalah kurkumin (zat pewarna kuning).

Kurkumin pada kedua tanaman tersebut mempunyai efek antiperadangan, antioksidan, antibakteri, imunostimulan, sebagai kolagogum (menstimulasi dinding kantong empedu untuk meningkatkan sekresi cairan empedu yang berperan dalam pemecahan lemak), hipolipidemik (menurunkan kolesterol darah), hepatoprotektor (melindungi hati dari zat toksik), dan sebagai tonikum/penyegar.

Kunyit dan temu lawak juga berfungsi sebagai antipiretik (menurunkan panas), mengurangi rasa sakit (analgetuk), melindungi lambung, peluruh haid, laktagoga, dan melancarkan sirkulasi darah. Kunyit juga berfungsi melebarkan saluran pernapasan.

Berdasarkan fungsi tersebut kunyit dan temu lawak mempunyai khasiat pengobatan untuk berbagai penyakit. Di antaranya gejala flu seperti demam, pilek, dan hidung tersumbat. Juga untuk sesak napas, badan terasa lemas, nyeri sendi dan otot, rematik/peradangan sendi, radang lambung, gangguan pendernaan, hepatitis, sakit kuning, kolesterol tinggi, dan hipertensi.

Sifat tonikum pada kunyit dan temu lawak berkhasiat sebagai penyegar dan meningkatkan stamina sehingga badan tidak cepat lelah. Sedangkan sifat imunostimulan berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menangkal berbagai serangan kuman penyebab penyakit, termasuk virus.

Efek antioksidannya berfungsi untuk melindungi tubuh dari serangan radikal bebas yang berbahaya yang dapat emmicu kanker dan penyakit lainnya. ''Efek antioksidan pada kunyit sangat kuat dibandingkan jenis rimpang lainnya, bahkan lebih kuat dari vitamin E,'' kata Hembing. Itu karena kandungan kurkumin kunyit lebih tinggi daripada rimpang lainnya. Bisa dilihat dari daging rimpangnya yang berwarna kuning oranye.

Kurkumin juga mempunyai efek lain. Menurut drh CA Nidom MS, ahli biologi molekuler dari Universitas Airlangga, Surabaya, kurkumin paa kunyit dan temu lawak mempunyai efek menurunkan sitokin, yaitu protein yang membuat sel-sel kekebalan tubuh berproduksi, tumbuh dan mati. Pada kasus flu burung terjadi peningkatan sitokin secara berlebihan sehingga dapat menyebabkan kerusakan sel dan memperparah kondisi pasien.

Untuk mencegah flu burung dan meningkatkan daya tahan tubuh Hembing mengajukan ramuan tumbuhan obat sebagai berikut.

* 25 gram kunyit + 30 gram temu lawak + 10 gram jahe + 15 gram sambiloto + 60 gram krokot segar dicuci bersih dan direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring, airnya diminum.

* 90 gram daun lidah buaya dikupas kulitnya + 15 gram sambiloto + 25 gram kunyit + 30 gram temu lawak direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring, airnya diminum.

''Mulai lah untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan dan menjaga tubuh dari serangan flu burung dengan meningkatkan daya tahan tubuh, di antaranya dengan memanfaatkan tanaman obat,'' kata penerima penghargaan Satyalencana Kebaktian Sosial dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Agustus lalu ini.
( cis )

Selasa, 25 Oktober 2005
Herbal Penyelamat Cinderella

Penulis: Samiran, peneliti Tanaman Obat di Pusat Biologi Bidang Botani, LIPI, di Bogor

Sudah tiga hari ini Wimpie terbaring lemah di tempat tidur. Dokter meminta bapak satu anak itu beristirahat beberapa hari, karena merunut hasil tes darah, jumlah trombosit di dalam tubuhnya menurun drastis. "Kalau dalam dua tiga hari kondisi bapak tak juga membaik, harus dirawat di rumah sakit," kata Wimpie, menirukan ancaman dokter.

Terbayang sudah, dia tidak akan bisa mendampingi Cindy, putri tersayang, dalam pementasan drama "Cinderella" di TK sang anak minggu depan. Padahal, itulah kali pertama Cindy mendapat peran utama dalam pementasan drama di sekolahnya.

Selain suhu tubuh naik turun tak keruan, turunnya trombosit, menurut sang dokter, adalah salah satu gejala demam berdarah yang paling gampang ditandai. "Memang baru gejala, tapi jangan anggap enteng. Saya sarankan bapak banyak beristirahat, rajin makan makanan bergizi, dan perbanyak minum air putih," pesan dokter.

Beruntung, tak lama kemudian datang konco akrabnya. "Wim, aku bawa sesuatu untuk kamu. Resep ramuan ini aku dapat saat berkunjung ke tempat sepupuku yang bekerja di Badan Penelitian Tanaman Obat, Bogor. Konon bisa menyembuhkan demam berdarah. Ada baiknya, selain minum obat dokter, kamu juga mencoba ramuan yang sudah diteliti ini," ucap sang teman.

Wimpie yang selama ini ogah-ogahan minum jejamuan, cuma mengangguk lesu. Pikirannya masih melayang, bagaimana jadinya nasib putri Cinderella jika saat mentas nanti tak ditonton papa tercinta?

Rimpang beda warna

Ia sadar betul, sampai saat ini, demam berdarah masih merupakan salah satu penyakit epidemik yang masih sangat ditakuti. Penyakit ini sering mewabah di daerah-daerah yang memiliki sanitasi lingkungan kurang baik. Penyebabnya, kita pasti sama-sama tahu, yakni gigitan nyamuk Aedes aegypti L. yang di dalam tubuhnya sudah kemasukan virus demam berdarah. Sekali menulari, si nyamuk akan menjadi penular sepanjang hidupnya.

Karena di Indonesia penyakit ini saban tahun banyak memakan korban, "Sepupu saya yang bekerja di Balai Penelitian Tanaman Obat (Balitro) Bogor ikut melakukan penelitian untuk menemukan obat mujarab demam berdarah. Minimal meringankan beban penderitanya," cetus teman Wimpie. Si teman lalu menyebut ramuan herbal yang terdiri atas rimpang kunyit (Curcuma longa L.), rimpang temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.), tanaman meniran (Phillantus urinaria L.), daun pepaya (Carica papaya L.) dan daun jambu biji merah (Psidium guajava L.), dan garam secukupnya.

Keenam herbal tersebut diyakini menyimpan khasiat antioksidan, antivirus atau antibakteri, menaikkan jumlah trombosit dalam darah dan menstabilkan tekanan darah. Rimpang kunyit dan temu hitam sendiri termasuk tumbuhan obat dari keluarga temu-temuan. Perbedaan keduanya hanya terdapat pada rimpangnya. Bila dipotong, rimpang kunyit berwarna jingga, sedangkan temu hitam rimpangnya berwarna agak kehitaman.

Rimpang kunyit selama ini dikenal masyarakat sebagai obat penyakit lambung, peluruh keringat, penciut selaput lendir (astringent) pada penderita wasir, obat untuk berbagai jenis penyakit kuning (hepatitis) dan penangkal berbagai penyakit yang diakibatkan oleh gangguan hati lainnya.

Sedangkan sebagai obat luar, ia kerap digunakan untuk penyakit gatal, luka kecil, luka digigit serangga, radang kulit, cacar air, dan bisul bernanah. Rebusan rimpang kunyit banyak juga dimanfaatkan untuk memperbaiki sirkulasi saat menstruasi, untuk membersihkan darah, serta obat infeksi organ perkencingan.

Kadang-kadang, kunyit dipakai juga buat melegakan perut, obat diare, untuk menyembuhkan batuk dan memberantas tuberculosis (TBC). Sebagian masyarakat juga menggunakannya sebagai obat antikejang, radang gusi, insektisida, antijamur, dan bahan obat cacing.

Mencegah oksidasi

Sekarang soal temu hitam. Tanaman ini dikenal di Jawa sebagai temu ireng, sedangkan orang Sunda menyebutnya temu hideung.

Di daratan Cina, rimpang temu hitam kerap dimanfaatkan sebagai obat perut mulas. Sementara di semenanjung Malaysia, telah lama digunakan sebagai obat batuk dan asma. Kadang dipakai juga sebagai tapal oleh penderita sariawan usus. Di Indonesia dan Thailand, rimpang temu hitam juga biasa direbus untuk minum dan tapal wanita setelah melahirkan.

Herbal satu ini kadang digunakan pula sebagai pembersih darah, pelangsing tubuh, penyembuh rematik dan peluruh keringat. Hikino (1985) mengutip Antihepatixic Activity of Crude Drugs menyebutkan, rimpang kunyit dan temu hitam mengandung senyawa curcuminoids, lengkap dengan turunannya seperti diferuloyl methane , desmethoxy-curcumin , dan bidesmethoxy curcumin .

Senyawa-senyawa tersebut dipercaya dapat bertindak sebagai antioksidan yang mencegah oksidasi lemak dan siklus oksidasi dalam trombosit, sehingga menyebabkan turunnya kadar lemak dalam darah dan hati. Senyawa itu juga mencegah keracunan hati (antihepatotoksit), sekaligus meningkatkan kekebalan tubuh terhadap serangan virus.

Kaya akan senyawa perkasa

Selain temuan-temuan di atas, masih ada meniran, yang juga termasuk dalam ramuan penumpas demam berdarah. Di Papua Nugini, rebusan tanaman meniran dianggap manjur sebagai obat cacing. Sedangkan di Brunei Darussalam, orang biasa menumbuk daunnya, lalu mencampurnya dengan santan kelapa, untuk dipakai sebagai obat cacar. Sementara di Kamboja, tanaman dari keluarga Euphorbiaceae (jarak-jarakan) ini dipakai sebagai bahan baku obat malaria. Hussain at. al (1995) dalam Journal of Natural Product menegaskan, meniran mengandung senyawa triterpenoids, flavonoid, tanin, alkaloid, asam fenol, filantin, hipofilantin, dan kalium.

Dalam ilmu farmasi, flavonoid berfungsi sebagai senyawa aktif antiradang, mengurangi rasa nyeri, antitumor, antivirus HIV, antidiare, antikeracunan hati, antijamur, antioksidan, mencegah penyempitan pembuluh darah, merangsang kekebalan dan antiborok/bisul.

Ramuan berikutnya, daun pepaya dan daun jambu biji merah. Tanaman pepaya dikenal sebagai buah yang kaya dengan sumber antioksidan alami, karena kandungan vitamin A, C, dan E-nya. Daunnya juga dikenal sebagai pelunak daging, masyarakat juga sering menggunakan daun pepaya sebagai sayuran yang dianggap ampuh mencegah penyakit malaria. Buahnya, seperti sering kita temui di meja makan, kerap dijadikan suguhan penutup untuk melancarkan buang air besar penderita wasir.

Roth dan Lindolf dalam South American Medicine Plants (2002) menyebut daun pepaya mengandung karpain, senyawa aktif yang berpengaruh pada aktivitas jantung, mengurangi tekanan dalam pembuluh darah, mengurangi frekuensi denyut urat nadi, dan peluruh air seni. Senyawa lainnya, papain, dikenali sebagai senyawa antiradang dan antipenimbunan cairan maupun gas dalam jaringan (antiedemik).

Terakhir, tanaman jambu biji dari jenis yang berdaging berwarna merah, pun sudah sangat tidak asing lagi, karena diakui sebagai sumber vitamin C. Daunnya dikenal sebagai obat diare, karena kaya akan tanin yang bersifat mengecilkan pori-pori selaput lendir. Di samping itu, daunnya juga kaya akan vitamin C yang bersifat antioksidan, antibakteri, antiradang, peluruh cacing, antikuman/virus, tidak menimbulkan muntah, mengeluarkan angin, meredakan kejang, dan sebagai tonik.

Mendengar uraian panjang lebar temannya, semangat Wimpie untuk sehat secepatnya kembali tumbuh. "Jadi benar ramuan ini sudah diteliti di Balai Penelitian Tanaman Obat?" Wimpie mengulang pertanyaan yang hanya perlu dijawab dengan anggukan sang teman. "Apa boleh buat, pahit sedikit enggak masalah, yang penting, Cinderella tetap ceria," putus Wimpie, kali ini di dalam hati.

Meracik Si Antidemam Berdarah

Untuk membuat ramuan herbal antidemam berdarah, ambil rimpang temu hitam dan rimpang kunyit masing-masing sebesar satu jempol, lalu keduanya diiris tipis. Cari juga tanaman meniran yang tingginya sekitar 20 cm sebanyak tiga batang, daun pepaya tua 1 - 2 lembar, daun jambu biji merah 3 - 5 lembar, dan garam secukupnya. Rebus campuran herbal-herbal berkhasiat tadi dengan air sebanyak empat gelas, kemudian disaring. Nah, hasil saringannya diminum setiap empat jam sekali.

Selamat mencoba!

Kompas, 16 Juni 2006
Kunyit, Sahabat Dekat Penghalus Kulit

Kunyit, kunir, atau koneng merupakan tanaman sekeluarga dengan jahe dengan nama latin Curcuma longa Koen atau Curcuma domestica Val. Dari daun sampai ke rimpangnya banyak digunakan untuk bumbu dapur sampai bahan obat.

Sebagai bahan pewarna, rimpangnya sudah sejak dulu dipakai untuk mewarnai kapas, wol, sutera, tikar, dan barang-barang kerajinan lainnya. Juga sebagai pewarna dan penyedap berbagai makanan. Di Eropa, kunyit juga dipakai untuk mewarnai mentega, keju, dan lain-lain. Tepung kunyit juga dipakai di industri kosmetika.

Senyawa utama yang terkandung dalam rimpang kunyit adalah senyawa kurkuminoid yang memberi warna kuning pada kunyit. Kurkuminoid ini (kebanyakan berupa kurkumin) menjadi pusat perhatian para peneliti yang mempelajari keamanan, sifat antioksidan, antiinflamasi, efek pencegah kanker, dll, ditambah kemampuannya menurunkan risiko serangan jantung.

Senyawa kurkuminoid telah diteliti kemampuannya untuk melindungi sel-sel, jaringan dan organ tubuh dari kerusakan yang diakibatkan radikal bebas dengan menetralisasi radikal bebas, dan mencegah pembentukan radikal yang baru. Dan dari beberapa referensi pendukung memperlihatkan, dengan adanya antioksidan kunyit, maka kunyit sangat baik untuk kesehatan kulit. Tradisi di kalangan keraton-keraton Jawa, para wanita dan putri-putrinya selalu rutin meminum kunyit asam untuk menjaga kesehatan dan kehalusan kulit mereka.

Aktivitas antiinflamasi dari kurkumin juga telah diuji dengan membandingkan kurkumin dengan senyawa steroid dan nonsteroid (fenilbutason) untuk pengobatan rheumatoid arthritis. Kurkumin berpengaruh pada sintesis senyawa yang menjadi penyebab inflamasi dengan cara menghambat biosintesis leukotrien dan berefek pada produksi prostaglandin. Kedua zat ini dapat menimbulkan rasa nyeri dan panas. Dari studi yang dilakukan terlihat bahwa terjadi perbaikan yang nyata antara kurkumin dan fenilbutason.

Di samping itu, kunyit sebagaimana temulawak juga bermanfaat untuk melindungi hati dan banyak digunakan sebagai makanan pendamping bagi penderita lever.
Untuk pemakaian pada kulit, secara tradisional kunyit banyak dipakai untuk infeksi kulit seperti eksim dan kudis. Juga banyak digunakan untuk memperbaiki pencernaan seperti pengeluaran empedu sehingga mencegah perut kembung. Dalam bentuk salep banyak dipakai untuk mengobati borok, abses, bengkak, dan encok.

Berdasar Farmakope Cina, rimpang kunyit dipakai sebagai obat sakit dada dan perut, lengan sakit, sakit pada saat haid, luka-luka dan borok. Kunyit dianggap sangat mujarab untuk menyembuhkan haid yang tidak teratur, melancarkan aliran darah, melarutkan gumpalan darah dan dijadikan resep untuk mengobati sakit perut.


Tips Membuat Kunyit Asam

Tak sulit membuat ramuan kunyit untuk berbagai keperluan pengobatan. Anda pun bisa membuatnya sendiri. Berikut cara membuat kunyit asam seperti dipaparkan bagian R&D PT SidoMuncul kepada Republika.

Untuk membuat jamu kunyit asam diperlukan bahan 80 gram asam Jawa, 150 gram kunyit, 130 gram gula Jawa, 80 gram gula pasir, garam secukupnya dan satu liter air. Biji asam dibuang, kemudian aduk asam tersebut dengan sedikit air. Kunyit diparut, peras airnya dan diendapkan. Campur air asam dan air kunyit dalam kuali tanah, rebus hingga agak kental, kemudian disaring.

Sedangkan untuk penghilang nyeri atau antiradang, rimpang kunyit sebanyak 20 gram dibuang kulitnya, lalu diparut. Tambahkan dua sendok makan air panas sambil diaduk. Peras dan saring airnya, boleh juga ditambah satu sendok makan madu. Kemudian, diminum sekaligus.
( )
Selasa, 29 April 2003
Kunyit, Sahabat Dekat Penghalus Kulit
Kunyit, kunir, atau koneng merupakan tanaman sekeluarga dengan jahe dengan nama latin Curcuma longa Koen atau Curcuma domestica Val. Dari daun sampai ke rimpangnya banyak digunakan untuk bumbu dapur sampai bahan obat.

Sebagai bahan pewarna, rimpangnya sudah sejak dulu dipakai untuk mewarnai kapas, wol, sutera, tikar, dan barang-barang kerajinan lainnya. Juga sebagai pewarna dan penyedap berbagai makanan. Di Eropa, kunyit juga dipakai untuk mewarnai mentega, keju, dan lain-lain. Tepung kunyit juga dipakai di industri kosmetika.

Senyawa utama yang terkandung dalam rimpang kunyit adalah senyawa kurkuminoid yang memberi warna kuning pada kunyit. Kurkuminoid ini (kebanyakan berupa kurkumin) menjadi pusat perhatian para peneliti yang mempelajari keamanan, sifat antioksidan, antiinflamasi, efek pencegah kanker, dll, ditambah kemampuannya menurunkan risiko serangan jantung.

Senyawa kurkuminoid telah diteliti kemampuannya untuk melindungi sel-sel, jaringan dan organ tubuh dari kerusakan yang diakibatkan radikal bebas dengan menetralisasi radikal bebas, dan mencegah pembentukan radikal yang baru. Dan dari beberapa referensi pendukung memperlihatkan, dengan adanya antioksidan kunyit, maka kunyit sangat baik untuk kesehatan kulit. Tradisi di kalangan keraton-keraton Jawa, para wanita dan putri-putrinya selalu rutin meminum kunyit asam untuk menjaga kesehatan dan kehalusan kulit mereka.

Aktivitas antiinflamasi dari kurkumin juga telah diuji dengan membandingkan kurkumin dengan senyawa steroid dan nonsteroid (fenilbutason) untuk pengobatan rheumatoid arthritis. Kurkumin berpengaruh pada sintesis senyawa yang menjadi penyebab inflamasi dengan cara menghambat biosintesis leukotrien dan berefek pada produksi prostaglandin. Kedua zat ini dapat menimbulkan rasa nyeri dan panas. Dari studi yang dilakukan terlihat bahwa terjadi perbaikan yang nyata antara kurkumin dan fenilbutason.

Di samping itu, kunyit sebagaimana temulawak juga bermanfaat untuk melindungi hati dan banyak digunakan sebagai makanan pendamping bagi penderita lever.
Untuk pemakaian pada kulit, secara tradisional kunyit banyak dipakai untuk infeksi kulit seperti eksim dan kudis. Juga banyak digunakan untuk memperbaiki pencernaan seperti pengeluaran empedu sehingga mencegah perut kembung. Dalam bentuk salep banyak dipakai untuk mengobati borok, abses, bengkak, dan encok.

Berdasar Farmakope Cina, rimpang kunyit dipakai sebagai obat sakit dada dan perut, lengan sakit, sakit pada saat haid, luka-luka dan borok. Kunyit dianggap sangat mujarab untuk menyembuhkan haid yang tidak teratur, melancarkan aliran darah, melarutkan gumpalan darah dan dijadikan resep untuk mengobati sakit perut.


Tips Membuat Kunyit Asam

Tak sulit membuat ramuan kunyit untuk berbagai keperluan pengobatan. Anda pun bisa membuatnya sendiri. Berikut cara membuat kunyit asam seperti dipaparkan bagian R&D PT SidoMuncul kepada Republika.

Untuk membuat jamu kunyit asam diperlukan bahan 80 gram asam Jawa, 150 gram kunyit, 130 gram gula Jawa, 80 gram gula pasir, garam secukupnya dan satu liter air. Biji asam dibuang, kemudian aduk asam tersebut dengan sedikit air. Kunyit diparut, peras airnya dan diendapkan. Campur air asam dan air kunyit dalam kuali tanah, rebus hingga agak kental, kemudian disaring.

Sedangkan untuk penghilang nyeri atau antiradang, rimpang kunyit sebanyak 20 gram dibuang kulitnya, lalu diparut. Tambahkan dua sendok makan air panas sambil diaduk. Peras dan saring airnya, boleh juga ditambah satu sendok makan madu. Kemudian, diminum sekaligus.
( )
Selasa, 29 April 2003
Kunyit, Sahabat Dekat Penghalus Kulit
Kunyit, kunir, atau koneng merupakan tanaman sekeluarga dengan jahe dengan nama latin Curcuma longa Koen atau Curcuma domestica Val. Dari daun sampai ke rimpangnya banyak digunakan untuk bumbu dapur sampai bahan obat.

Sebagai bahan pewarna, rimpangnya sudah sejak dulu dipakai untuk mewarnai kapas, wol, sutera, tikar, dan barang-barang kerajinan lainnya. Juga sebagai pewarna dan penyedap berbagai makanan. Di Eropa, kunyit juga dipakai untuk mewarnai mentega, keju, dan lain-lain. Tepung kunyit juga dipakai di industri kosmetika.

Senyawa utama yang terkandung dalam rimpang kunyit adalah senyawa kurkuminoid yang memberi warna kuning pada kunyit. Kurkuminoid ini (kebanyakan berupa kurkumin) menjadi pusat perhatian para peneliti yang mempelajari keamanan, sifat antioksidan, antiinflamasi, efek pencegah kanker, dll, ditambah kemampuannya menurunkan risiko serangan jantung.

Senyawa kurkuminoid telah diteliti kemampuannya untuk melindungi sel-sel, jaringan dan organ tubuh dari kerusakan yang diakibatkan radikal bebas dengan menetralisasi radikal bebas, dan mencegah pembentukan radikal yang baru. Dan dari beberapa referensi pendukung memperlihatkan, dengan adanya antioksidan kunyit, maka kunyit sangat baik untuk kesehatan kulit. Tradisi di kalangan keraton-keraton Jawa, para wanita dan putri-putrinya selalu rutin meminum kunyit asam untuk menjaga kesehatan dan kehalusan kulit mereka.

Aktivitas antiinflamasi dari kurkumin juga telah diuji dengan membandingkan kurkumin dengan senyawa steroid dan nonsteroid (fenilbutason) untuk pengobatan rheumatoid arthritis. Kurkumin berpengaruh pada sintesis senyawa yang menjadi penyebab inflamasi dengan cara menghambat biosintesis leukotrien dan berefek pada produksi prostaglandin. Kedua zat ini dapat menimbulkan rasa nyeri dan panas. Dari studi yang dilakukan terlihat bahwa terjadi perbaikan yang nyata antara kurkumin dan fenilbutason.

Di samping itu, kunyit sebagaimana temulawak juga bermanfaat untuk melindungi hati dan banyak digunakan sebagai makanan pendamping bagi penderita lever.
Untuk pemakaian pada kulit, secara tradisional kunyit banyak dipakai untuk infeksi kulit seperti eksim dan kudis. Juga banyak digunakan untuk memperbaiki pencernaan seperti pengeluaran empedu sehingga mencegah perut kembung. Dalam bentuk salep banyak dipakai untuk mengobati borok, abses, bengkak, dan encok.

Berdasar Farmakope Cina, rimpang kunyit dipakai sebagai obat sakit dada dan perut, lengan sakit, sakit pada saat haid, luka-luka dan borok. Kunyit dianggap sangat mujarab untuk menyembuhkan haid yang tidak teratur, melancarkan aliran darah, melarutkan gumpalan darah dan dijadikan resep untuk mengobati sakit perut.


Tips Membuat Kunyit Asam

Tak sulit membuat ramuan kunyit untuk berbagai keperluan pengobatan. Anda pun bisa membuatnya sendiri. Berikut cara membuat kunyit asam seperti dipaparkan bagian R&D PT SidoMuncul kepada Republika.

Untuk membuat jamu kunyit asam diperlukan bahan 80 gram asam Jawa, 150 gram kunyit, 130 gram gula Jawa, 80 gram gula pasir, garam secukupnya dan satu liter air. Biji asam dibuang, kemudian aduk asam tersebut dengan sedikit air. Kunyit diparut, peras airnya dan diendapkan. Campur air asam dan air kunyit dalam kuali tanah, rebus hingga agak kental, kemudian disaring.

Sedangkan untuk penghilang nyeri atau antiradang, rimpang kunyit sebanyak 20 gram dibuang kulitnya, lalu diparut. Tambahkan dua sendok makan air panas sambil diaduk. Peras dan saring airnya, boleh juga ditambah satu sendok makan madu. Kemudian, diminum sekaligus.